Jumat, 18 Mei 2018

Apakah Introvert Berbahaya?



Untuk kali ini mungkin gaya postinganku agak berbeda dari biasanya, hehe.

Aku sedang belajar menulis dengan kesan yang lebih santai. Ya, ada hal menarik yang ingin kutulis.


Di zaman yang serba modern ini, kita sangat dimanjakan dengan kecanggihan teknologi. Di samping itu, kita juga dituntut untuk serba bisa dalam memanfaatkan dan menggunakan teknologi tersebut.


Tapi dalam beberapa kasus, justru teknologi itu malah berdampak negatif terhadap perkembangan psikologi manusia, khususnya bagi remaja.

Ada istilah yang mengatakan, “Yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh” itu salah satu dampak dari perkembangan teknologi. Yang mana akan timbul sikap apatis remaja terhadap lingkungannya.


Apatis dan Introvert, apakah sama?

Kita akan coba tarik lurus hubungan antara apatis dan introvert. Apatis adalah sikap cuek atau  ketidak pedulian terhadap lingkungan sekitar. Sedangkan introvert adalah orang yang lebih suka berfikir dahulu dari dalam dirinya sendiri dan cenderung menutup diri dari lingkungan sekitarnya.

Jadi bisa dikatakan bahwa introvert adalah salah satu sebab timbulnya sikap apatis.


Lalu, apakah itu berbahaya terhadap perkembangan psikologi remaja?

Ya, tentu saja itu tergantung bagaimana mereka menyikapi. Ketergantugan remaja terhadap teknologi membuat banyak remaja menjadi sibuk dengan kehidupannya sendiri dan mengakibatkan kurangnya komunikasi interpersonal di kalangan mereka.


Mungkin anda pernah dengar istilah “Kalian harus bisa berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain.” Atau barangkali seperti ini, “Bayangan kalian saja meninggalkan kalian disaat gelap.”

Istilah itu benar jika bermaksud untuk membuat mereka mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Tapi bisa jadi keliru kalau mereka mengartikannya dalam seluruh hal.


Bagaimana dengan masa depannya?

Danang Girindrawardana dalam bukunya MOU Maximum Of  You
“Orang-orang sukses selalu bersinergi dengan orang-orang lain lengkap dengan kecakapan mereka masing-masing. Kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain bakal sangat membantu pembentukan masa depan seseorang .“


Bagaimana orang yang tidak peduli dengan lingungkanya dan cenderung menutup diri bisa melakukan komunikasi interpersonal dengan baik? Tentu dibutuhkan kecakapan relasional dalam membangun hubungan dengan orang lain dalam waktu cepat.


Tanadi Santoso dalam Buku Kancing Sang Nenek Business Wisdom

"Berusahalah selalu untuk membentuk sebuah lingkungan yang menguntungkan. Dengan begitu, kita akan lebih mudah mencapai tujuan-tujuan kita".

“Good habits are as addictive as bad habbits. And a lot more rewarding” ~ Harvey McKay



Salah seorang ahli pencetus teori disonasi kognitif yang menghubungkan komunikasi interpersonal dengan sosiopsikologis, Leon Festiger memberikan cara dalam melakukan komunikasi interpersonal dengan baik. Yaitu bagaimana pengalaman disonansi kognitif menyebabkan adanya perubahan sikap dan perilaku.


Yang mana disonasi kognitif terbagi dalam tiga aspek teori. Pertama teori perilaku yaitu bagaimana sikap kita menghadapi informasi yang datang, kedua teori kognitif yaitu bagaimana cara kita memfilter informasi yang datang, ketiga teori biologis yaitu berdasarkan sikap dari faktor genetik atau keturunan kita.


Ingatlah, “Ambisi pribadi muncul dari lingkungan dan kemauan diri sendiri, tapi tidak akan pernah anda mendapatkan ambisi dari Ketersendirian”.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar